Selasa, 16 November 2010
Gayus Jadi Pesulap
Kalau malam berkulit gelap
Gayus kembali membuat heboh
Di dalam tahanan bermain sulap
Kuda lapar makan lalap
Lalapan dikunyah bersama tali
Di dalam tahanan bermain sulap
Simsalabim ada di Bali
Tikus di tanah pandai menggali
Mencari-cari makanan manis
Simsalabim ada di Bali
Abakadabra nonton tenis
Dalam panci sayur ditumis
Sayur enak lidah dimanja
Abakadabra nonton tenis
Tertangkap kamera santai aja
Roti terhidang di atas meja
Tak mau makan nasi dan jagung
Tertangkap kamera santai aja
Rutan Brimob pura-pura bingung
Harta karun di atas gunung
Jadi rebutan sampai berdarah
Rutan Brimob pura-pura bingung
Kepala Polri katanya marah
Pandai menyedot si dukun gurah
Sambil gunakan air dan santan
Kepala Polri katanya marah
Langsung mencopot kepala rutan
Banyak emas di dalam hutan
Emas tersimpan di pohon pinus
Langsung mencopot kepala rutan
Katanya menikmati suapan Gayus
Di ranting pohon banyak bulus
Pandai mengunyah buah rambutan
Katanya menikmati suapan Gayus
Dari mesin ATM bernama rutan
Banyak hama babi hutan
Sudah ditembak tak mau lari
Dari mesin ATM bernama rutan
Buah reformasi di tubuh Polri?
Makassar, 14 November 2010
Obama Datang
Berita ditulis gunakan pena
Mister Obama kunjungi Jakarta
Jadi hiburan di tengah bencana
Banyak balon terapung-apung
Hanyut sampai di Samudera India
Anak Menteng katanya pulang kampung
Disambut orang-orang gila nostalgia
Kancil di rimba hidup nomaden
Tangkas berlari di muda usia
Anak Menteng jadi presiden
Seperti cita-cita anak Indonesia
Kalau bermain di Tanah Menteng
Jangan lupa membawa whisky
Obama suka bakso-nasi goreng
Kami memuja ayam kentucky
Ditiup angin pohon tak runtuh
Di bawah pohon acara pengantin
Pidato Obama tegas menyentuh
Piadato di sini curhat dan prihatin
Banyak ikan di Benua Asia
Bajak laut di Benua Afrika
Obama bagian dari Indonesia
Sudah lama milik Amerika
Kursi dirajut gunakan rotan
Rotan dibungkus dengan kain sutra
Obama menyihir kata dan perbuatan
Bukan beretorika menjaga citra
Makassar, 7 November 2010
Rabu, 27 Oktober 2010
Bencana
Dalam gulita tak ada lampu
Tak bisa jalan di tanah rawa
Di Mantawai tsunami menyapu
Ratusan orang kehilangan nyawa
Banjir menghemas dasar pondasi
Menerjang halaman merusak pagar
Di Jawa Merapi sedang erupsi
Nyawa dan harta terkubur lahar
Ikan di laut banyak terdampar
Semunya ingin berenang di kolam
Di Jakarta genangan air terhampar
Mobil-mobil mewah macet terendam
Cicak-cicak merayap di dinding
Sibuk mencari hinggapnya lalat
Di luar negeri DPR studi banding
Belajar etika dengan uang rakyat
Makassar, 27 Oktober 2010
DPR Belajar Etika
Banyak binatang kancil dan kadal
Banyak pula sapi dan kambing
DPR tidak kehabisan akal
Selalu punya alasan studi banding
Banyak bunglon di padi tegalan
Tak bisa diusir para petani
Agar bisa kesempatan jalan-jalan
Belajar etika di negeri Yunani
Pahit rasanya kopi arabika
Kalau diminum jangan seketika
Jalan-jalan sambil belajar etika
Mumpung DPR lagi krisis etika
Pakaian kusut harus disetrika
Kalau dicuci gunakan busa
Kalaulah sudah belajar etika
Belajarlah ilmu pandai merasa
Kalau ingin memburu rusa
Jangan sembunyi di balik benalu
Kalaulah sudah pandai merasa
Belajarlah ilmu merasa malu
Potong roti gunakan sembilu
Sambil makan minum susu
Kalaulah sudah punya rasa malu
Belajarlah ilmu menahan nafsu
Kuda berlari telinganya bisu
Melihat ke padang rumput tersaji
Kalaulah bisa menahan nafsu
Belajarlah juga menepati berjanji
Padi merunduk karena berbiji
Di tengah sawah ada melati
Kalaulah sudah menepati janji
Belajarlah juga rendah hati
Ingin sakit minumlah jamu
Agar tubuh tetaplah sehat
Kalaulah sudah cukup berilmu
Jangan royal dengan uang rakyat
Makassar, 23 Oktober 2010
Senin, 25 Oktober 2010
Kalah Gertak RMS
Jangan lupa singgah belanja
Memenuhi undangan Ratu Belanda
SBY berangkat menjelang senja
Burung berkicau di pohon cempaka
Terbang hinggap di bebatuan
Enam puluh lima tahun kita merdeka
Baru menerima surat pengakuan
Dalam ruangan mengalun lagu
Musik merdu kedengaran lantang
Dalam pesawat rombongan menunggu
SBY tampaknya belum juga datang
Perahu berlayar takkan kandas
Kalaulah layar bisa terangkat
Pesawat presiden tak lepas landas
Karena SBY tak mau berangkat
Banyak orang makan di kantin
Sambil makan bisa bercanda
SBY marah dan prihatin
RMS bikin sidang di Belanda
Menuntut ilmu di kota Leiden
Kalau perang belajar di Rusia
Katanya RMS menangkap presiden
Atas pelanggaran hak azasi manusia
Kalau keju dicampur selada
Enak rasanya tidak terasa
SBY batalkan lawatan ke Belanda
Antara ketakutan dan martabat bangsa
Ada garuda tergambar di dada
Ada gambar anak cicak
Karena membatalkan terbang ke Belanda
RMS dianggap berhasil menggertak
Elang terbang ke tengah lautan
Gugup memandang burung gelatik
Antara martabat bercampur ketakutan
SBY lupa kekebalan diplomatik
Makassar, 17 Oktober 2010
Teka-teki Calon Kapolri
Gembala memandu sambil berdiri
Di Medan sibuk menembak teroris
Presiden menimbang calon Kapolri
Duduk di atas tikar terhampar
Sambil gunakan kacamata riben
Para pengamat sibuk komentar
Calon Kapolri di kantong presiden
Pohon besar tumbuhnya rindang
Ditiup angin menari-nari
Setelah menimbang, menimbang, menimbang
Presiden usulkan calon Kapolri
Ikan diolah menjadi sarden
Bisa dimakan cucak rowo
Siapa gerangan usulan presiden
Nanan Sukarna dan Imam Sujarwo
Batang bambu tumbuh beruas
Malam hari hinggap kelelawar
Nanan dan Imam dari bursa Cikeas
Penghuni Senayan tawar menawar
Hewan melata tak pakai kaki
Kalau dikejar bisa berlari
Politisi dan pengamat berteka-teki
Siapa gerangan menjadi Kapolri
Besar batangnya pohon sagu
Bisa tumbuh di tanah berlembab
Nanan dan Imam sama-sama menunggu
Teka-teki merebak belum terjawab
Kursi rotan telah dirajut
Dirombak kembali ketika dianyam
Nanan dan Imam sama-sama terkejut
Terpental diseruduk si kuda hitam
Cahaya bulan diduga pagi
Duduk menunggu di dalam pendopo
Setelah menimbang dan menimbang lagi
Presiden pilih Timur Pradopo
Pungguk duduk memandang langit
Seperti ingin bernasib mujur
Si kuda hitam langsung melejit
Bagai memetik bintang timur
Kalau memanen buah nenas
Jangan dikarbit dengan merajam
Untuk memenuhi kehendak Cikeas
Pangkat melambung hitungan jam
Ban bocor bisa ditambal
Kalau robek tidak meletup
Calon Kapolri si calon tunggal
Bertemu DPR di ruang tertutup
Kuda dipacu tak mau berlari
Kalau di arena banyak suara
Aneh rasanya calon kapolri
Ujian DPR seperti sandiwara
Minyak kayu putih dari Pulau Buru
Tumpah di botol takkan harum
Banyak yang sangsi Kapolri baru
Mampu menumpas mafia hukum
Palu, 15 Oktober 2010
Senin, 27 September 2010
Membunuh Teroris, Teroris membunuh
Nyala api bagai jilatan
Kalau angin memberi hempasan
Terorisme terus mengancam keselamatan
Agama dibelokkan di jalan kekerasan
Di tengah gulita bunyi petasan
Ledakan di udara bagai kepakan
Berantas terorisme dengan kekerasan
Dendam dibalas dengan perampokan
Bom digunakan menangkap ikan
Terumbu karang hancur berantakan
Senjata digunakan melawan keyakinan
Jihad dijadikan semangat perlawanan
Kalau berbaris kaki dihentakkan
Tangan di pinggang ikut digoyangkan
Teror ledakan ke perampokan
Teroris dan perampok saling manfaatkan
Menangkap burung dengan jebakan
Perangkap dirusak hewan tangkapan
Tangkap teroris dengan tembakan
Polisi dibunuh dengan senapan
Kalau menunggang sapi karapan
Jangan berlari di luar pinggiran
Gagah perkasa densus delapan-delapan
Berantas terorisme jangan sendirian
Racun dikirim lewat bungkusan
Jangan dikira bingkisan makanan
Terosisme butuh pendekatan kemanusiaan
Jangan bertindak sesuai pesanan
Ayam terkurung dalam kurungan
Melihat burung terbang di awan
Berantas teroris dengan peperangan
Terorisme tumbuh bagaikan cendawan
Ular kobra membiak di hutan
Kalau malam merayap ke halaman
Terorisme musuh kemanusiaan
Harus dihadapi secara bersamaan
Makassar, 23 September 2010
Kamis, 23 September 2010
Tuhan Dibakar dan Ditusuk
Kalau di tanah racun merasuk
Di Amerika Qur'an dibakar
Di Bekasi pendeta ditusuk
Lipan sembunyi dalam jerami
Kalau menggigit tersengat bisanya
Amarah membara buta nurani
Ajaran Tuhan dibakar fisiknya
Lintah di semak mencari darah
Kalau menggigit besar tubuhnya
Keyakinan disekap dengan amarah
Gembala Tuhan ditusuk fisiknya
Jangan mengganggu ular berbisa
Kalau berada di tanah petakan
Agama memandu hidup manusia
Mengapa keyakinan disengketakan
Matahari sinari penjuru dunia
Jangan melihat sambil berbalik
Satu Tuhan untuk semua
Mengapa agama dijadikan konflik
Di hutan pohon tumbuh sendiri
Tempat hewan mencari makan
Surga dan neraka ditentukan sendiri
Mengapa keimanan dipaksakan
Lampu pelita nyalanya redup
Karena diisi minyak yang busuk
Kalau menghendaki keselamatan hidup
Janganlah Tuhan dibakar ditusuk
Sinjai, 13 September 2010
Legislator Hight Cost
Jangan membaca ayat-ayat
Saat caleg berkampanye
Berjanji memenuhi kesejahteraan rakyat
Buang kertas di tumpukan sampah
Dikerumuni semut dan lalat
Saat berkampanye berani bersumpah
Akan berjuang demi rakyat
Dalam parit terlihat kotor
Tiang besi kelihatan berkarat
Saat menjadi calon legislator
Seluruh napasnya atasnamakan rakyat
Di pinggir pantai banyak nelayan
Masih banyak hidup melarat
Ketika terpilih bertahta di Senayan
Mulai menguras uang rakyat
Emas tersimpan di batu cadas
Banyak menggali gunakan alat
Ketika menjadi wakil yang cerdas
Jago argumen tuk pakai uang rakyat
Kalau duduk di tempat keramat
Daging sesaji disayat-sayat
Saat menjadi lagislator terhormat
Bernapas pun dilayani dengan uang rakyat
Masak gulai dan sambal terasi
Semua makanan habis diembat
Demi kenyamanan berlegislasi
Bangun gedung mewah dengan uang rakyat
Banyak cangkang kepiting dan udang
Mencengkram mangsa langsung melumat
Agar maksimal bikin undang-undang
Peknik luar negeri dengan uang rakyat
Melihat hantu katanya ghost
Hantu-hantuan terus bergulat
Wakil-wakil kita, legislator hight cost
Bersenang di atas penderitaan rakyat
Makassar, 16 September 2010
Selasa, 07 September 2010
Idul Fitri, Jagalah Puasa
Di sungai membiak ikan patin
Setelah berpuasa sebulan penuh
Mohon maaf lahir dan batin
Kalau hendak makan di kantin
Jangan sembunyi dalam ruangan
Mohon maaf lahir dan batin
Jangan hanya jabat di tangan
Kembang tumbuh di pekarangan
Daunnya rimbun dan hijau
Jangan hanya jabat di tangan
Jangan hanya pakaian berkilau
Sawah dibajak pakai kerbau
Menanam padi dan tanam talas
Jangan hanya pakaian berkilau
Zakat dan sedekah tulus dan ikhlas
Air bening di dalam gelas
Jangan dicelup besi batangan
Zakat dan sedekah tulus dan ikhlas
Agar yang miskin juga nikmati kemenangan
Banyak lumpur dalam kubangan
Banyak lumut yang melapisi
Agar yang miskin juga nikmati kemenangan
Jangan bersedekah demi gengsi
Banyak ulat di daun trembesi
Akar tak bisa menahan abrasi
Jangan bersedekah demi gengsi
Bersihkan pemberian dari sumber korupsi
Minyak pelumas tumpah di garasi
Ada bensin yang tersisa
Bersihkan pemberian dari sumber korupsi
Agar berpuasa tidak sia-sia
Kapal berlayar ke andalusia
Ditimpa badai layar tersangkut
Agar puasa tidak sia-sia
Jagalah puasa sampai Ramadhan berikut
Makassar, 7 September 2010
Senin, 06 September 2010
Legislator di Awan
Tokoh antagonis anak perawan
DPR kita membangun gedung
Mewah menjulang di awa-awan
Di televisi cerita si Komo
Anak yang nonton minta jajanan
Untuk tidak terusik demo
Legislator berkantor di atas awan
Anak muda kenakan dasi
Di tepi laut mainkan kail
Kalau penat di rapat komisi
Legislator berenang sambil ngemil
Di atas meja santap nasi
Sedang makan jangan disapa
Kalau capek terima aspirasi
Legislator berendam di kolam spa
Buah ranum masak sempurna
Jatuh tersangkut di tiang menara
Kalau ngantuk di rapat peripurna
Ada kamar bebas kamera
Pohon lebat sembunyi bulus
Saat melompat tak ada bayangan
Kalau wajah sedikit tak mulus
Legislator dirawat di salon kayangan
Simpan buah dalam kulkas
Diikat rapi tali-temali
Agar pikiran tak terkuras
Legislator dilayani banyak staf ahli
Anak raja tampan rupawan
Mencari bayangan di lumpur rawa
Gedung mewah di atas awan
Para legislator bagaikan dewa
Banyak penduduk di tanah Jawa
Jago sulap dan bela diri
Para legislator bagaikan dewa
Yang dilayani para bidadari
Mawar berbunga batang berduri
Kalau dipetik jangan sendiri
Para legislator dilayani bidadari
Rakyat yang diwakili mati berdiri
Batu bergulir di tanah yang landai
Menimpa badan tidak terasa
Legislator kita merasa pandai
Tapi tidak pandai merasa
Tanam pohon di atas lahan
Pohon menimpa para petani
Legislator kita manusia pilihan
Tinggi kecerdasan minus nurani
Makassar, 4 September 2010
Banyak Perampok
Pandai merayap dalam selokan
Aparat hukum tidak bisa berkutik
Di mana-mana aksi perampokan
Hewan liar butuhkan pakan
Kalau ditangkap pakai perangkap
Di mana-mana aksi perampokan
Banyak pelaku tak bisa ditangkap
Tumpukan kertas berangkap-rangkap
Kalau berat tak bisa diangkat
Banyak pelaku tak bisa ditangkap
Perampok selalu gegerkan masyarakat
Banyak yang bangga kalau berpangkat
Seperti gagak kepakkan sayap
Perampok selalu gegerkan masyarakat
Aksi koruptor mulus dan senyap
Korba di padang pandai merayap
Mencari mangsa di batu tepian
Aksi koruptor mulus dan senyap
Penegak hukum dapat bagian
Kalau berjalan di semak dan hutan
Badan diincar berbagai lintah
Penegak hukum dapat bagian
Kalau ketahuan pandai membantah
Tupai makan kelapa mentah
Buah di pohon tidak tersisa
Kalau ketahuan pandai membantah
Proses hukum bisa direkayasa
Banyak tikus tak bisa merasa
Kalau banyak makanan harum
Proses hukum bisa direkayasa
Keadilan ditentukan mafia hukum
Bunga bangkai berkuntum-kuntum
Tangkai berdiri seperti patok
Keadilan ditentukan mafia hukum
Koruptor pandai dan nyaman merampok
Makassar, 1 September 2010
Sabtu, 28 Agustus 2010
Serumpun Sengketa
Di bawah kolong ada hewan melata
Bersama-sama bangsa serumpun
Satu jazirah subur sengketa
Daun di dahan hendaklah layu
Kalau benalu selalu membalut
Bersama-sama bumi Melayu
Amarah membara gampang tersulut
Anak belia menjalin karib
Untuk mencari banyak kerabat
Sesama jiran sesama nasib
Janganlah saling singgung martabat
Perahu tertambat di tepi dermaga
Penumpang jenuh berlama-lama
Kalau persaudaraan hendak dijaga
Pagar batas disepakati bersama
Kapal berlayar tujuan searah
Bersama-sama pandai berlomba
Negeri serumpun satu sejarah
Tangkallah laknat yang mengadu-domba
Nasi dimasak menjadi bubur
Uap di kuali menjadi embun
Di timur tengah hancur lebur
Karena peperangan bangsa serumpun
Di lahan banyak kembang jepun
Banyak jerami merambat di sulur
Mari merawat samagat serumpun
Bara perbatasan jangan diulur
Makassar, 26 Agustus 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Merdeka
Rumah impian nan menawan
Hari ini hari merdeka
Terima kasih wahai pahlawan
Harum baunya buah nagka
Kalau masak jatuh mendera
Hari ini hari merdeka
Kami sibuk upacara bendera
Warna balon yang beraneka
Bergerak-gerak merangkai gaya
Hari ini hari merdeka
Kami nyanyikan Indonesia Raya
Patung di taman bagai boneka
Kalau dilihat seperti berbicara
Hari ini hari merdeka
Kami hafal dasar negara
Kalau ingin membuat koteka
Jangan gunakan buah yang langka
Hari ini hari merdeka
Rasa-rasanya belum merdeka
Alangka panas api neraka
Pedih rasanya tertusuk jarum
Hari ini hari merdeka
Kami terjajah mafia hukum
Kalau mencari malapetaka
Perahu berlayar jangan dibocor
Hari ini hari merdeka
Negeri kami dijajah koruptor
Tangkas nian para karateka
Pandai juga bermain gasing
Hari ini hari merdeka
Sumber daya alam dikuras asing
Kalau ingin menulis angka
Jangan tangan menyebar kuman
Hari ini hari merdeka
Keyakinan mengancam keberagaman
Pergi mencari buah semangka
Padih rasanya lapar di lambung
Hari ini hari merdeka
Harga sembako terus melambung
Ulat bukan binatang langka
Daun dan buah pun dihabisi
Hari ini belum merdeka
Mari berperang melawan korupsi
Makassar, 17 Agustus 2010
Jagalah Indra
Bisa dipakai usir serangga
Jagalah indra dalam puasa
Jangan bergunjing aib tetangga
Di pinggir hutan banyak rusa
Ada serigala meraung-raung
Jagalah indra dalam puasa
Jangan dengarkan kabar burung
Banyak kue aneka rasa
Banyak terbuat dari air santan
Jangalah indra dalam puasa
Harum gorengan usahlah bayangkan
Nyamuk dihalang kawat kasa
Semut merayap tanpa permisi
Jangalah indra dalam puasa
Kurangi tontonan sinetron di tivi
Ular di rawa banyak berbisa
Jangan sampai menggigit otot
Jagalah indra dalam puasa
Ada rok pendek jangan melotot
Palu, 15 Agustus 2010
Rabu, 11 Agustus 2010
Ramadhan
Berenang-renang sampai terbalik
Ramadhan hamparkan peluang kebaikan
Mari merangkai perbuatan yang baik
Pohon berdiri kokoh dan kuat
Daunnya rimbun bagai gumpalan
Ramadhan menguji keihklasan berbuat
Jangan beramal karena imbalan
Tupai di pohon makan sendiri
Dedaunan jatuh seperti tissu
Ramadhan menguji pengendalian diri
Puasa berperang melawan nafsu
Kerbau makan di dahan-dahan
Kalau mengunyah tak bisa merasa
Ramadhan limpahkan medan ampunan
Jangan bertobat sebatas puasa
Mutiara dirajut dalam untaian
Tersimpan rapi di dalam peti
Ramadhan limpahkan kemuliaan
Mari beramal dengan rendah hati
Tumbuh rimbun pohon cempaka
Kembang mekar berbalut satin
Ramadhan menguji rasa dan peka
Amal tak bedakan kaya dan miskin
Keluarnya lahar karena erupsi
Gunung meletus tak bisa ditahan
Ramadhan mengurangi perbuatan korupsi
Korupsi beramal pun dibenci Tuhan
Angin melesat bagai panahan
Kadang bunyinya terdengar indah
Ramadhan bukan sekadar menahan
Jagalah mata telinga dan lidah
Makassar, 11 Agustus 2010
Jumat, 06 Agustus 2010
Manajemen Aspirasi ala Senayan
Kalau melihat hamburan nasi
Legislator Senayan sangat kreatif
Seluruh napas atas nama aspirasi
Mesin diesel gunakan busi
Selalu terparkir dalam garasi
Setelah menuntut dana aspirasi
DPR meminta rumah aspirasi
Di pasar malam banyak jualan
Dari pakaian sampai terasi
Agar penuhi hasrat jalan-jalan
DPR minta wisata aspirasi
Bola kelereng bisa dijalin
Kalau duduk di atas kursi
Agar terhindar debu dan angin
DPR minta mantel aspirasi
Tumbuh berjejer pohon serikaya
Dari tanah dan tembok pondasi
Agar lancar di jalan raya
DPR minta patroli aspirasi
Akses intenet dengarkan musik
Banyak warnet tak beroperasi
Agar istirahat nyaman dan asyik
DPR minta hotel aspirasi
Meja makan dibuat bundar
Suasana makan seperti ilusi
Agar sehat, segar, dan bugar
DPR minta fitnes aspirasi
Burung camar dan burung punai
Pandai terbang berimigrasi
Agar tak repot bawa uang tunai
DPR minta ATM aspirasi
Tanah negara dan tanah ulayat
Tanah di pantai tergerus abrasi
Agar tak terganggu pikirkan rakyat
DPR minta satpam aspirasi
Korek api gunakan pemantik
Terbuat dari kayu dan besi
Agar rapih, gagah dan cantik
DPR minta salon aspirasi
Dalam tulang ada sum-sum
Kalau tak masak akan basi
Agar stabil makan dan minum
DPR minta kuliner aspirasi
Ikan bandeng dan ikan teri
Kalau makan tertusuk gusi
Agar terhindar virus dan bakteri
DPR minta masker aspirasi
Anak muda pandai begadang
Kalau ada makanan bergizi
Agar tak ngantuk saat bersidang
DPR minta kopi aspirasi
Dalam semak banyak ular
Anak ayam pun dihabisi
Agar terhindar penyakit menular
DPR minta faksin aspirasi
Kain katun dibuat dasi
Agar bisa menyerap keringat
DPR perkuat serap aspirasi
Yang dirserap kok uang rakyat
Makassar, 4 Agustus 2010
Senin, 02 Agustus 2010
Wakil Rakyat yang Pandai
Wakil rakyat tak pikirkan rakyat
Burung gagak dan burung perkutut
Wakil rakyat hanya menuntut
Tukang kayu pandai memahat
Wakil rakyat tidur di rapat
Burung berkicau di atas menara
Wakil rakyat pandai berbicara
Banyak keledai hendak binasa
Wakil rakyat tak pandai merasa
Ombak pecah di pinggir pantai
Wakil rakyat mengurus partai
Banyak semut mencari pemanis
Wakil rakyat mengurus bisnis
Berebutan mandi di air pancoran
Wakil rakyat menjadi calo angaran
Pandai berlomba di jalan tikungan
Waki rakyat bersuara karena kepentingan
Tanah warisan dan tanah ulayat
Wakil rakyat pandai atasnamakan rakyat
Makassar, 31 Juli 2010
Jumat, 30 Juli 2010
Jadilah Rahmat bagi Alam Semesta
Di atas karang ada hempasan
Jelang puasa bulan ampunan
Mengapa di Kuningan ada kekerasan
Dalam laut membiaknya ikan
Kerusakan terumbu jangan diabaikan
Agama menjadi sumber kebaikan
Mengapa keyakinan dipaksa-paksakan
Kalau berlabuh di pelabuhan
Janganlah jangkar dibuang terbalik
Kebanaran mutlak milik Tuhan
Mengapa pemahaman jadi sumber konflik
Merpati terbang di rerantingan
Dari kejauhan diintai gagak
Tuhan penilai perbedaan keyakinan
Mengapa manusia memaksakan kehendak
Indahnya pohon berbanyak dahan
Kalau menghiasi berbagai halaman
Tuhan rahmatkan aneka perbedaan
Mengapa manusia menolak keragaman
Kembang di taman jatuh berserakan
Kalau tumbuh di wadah yang salah
Tuhan karuniakan pentunjuk kebaikan
Mengapa fatwa timbulkan masalah
Sungguh elok negeri Indonesia
Kalau kemakmuran bisa terpenuhi
Agama memandu keselamatan manusia
Mengapa umat saling memusuhi
Oase di gurun jadikan percikan
Bagikanlah semua adil merata
Tegakkan agama jadi sumber kebaikan
Jadikanlah rahmat bagi alam semesta
Makassar, 30 Juli 2010