Rabu, 05 Januari 2011
Tahun Baru, Harapan Baru
Badai menghempas di tanah rata
Kita melepas dua ribu sepuluh
Didera bencana dan air mata
Gulma di ladang terus tumbuh
Hama tanaman saling berangkum
Kita mepelas dua ribu sepuluh
Ternoda perbuatan mafia hukum
Pencuri malam gunakan suluh
Lari menggunakan sepeda motor
Kita melepas dua ribu sepuluh
Masih berkuasa para koruptor
Di laut perahu harus dikayuh
Di batu karang banyak gurita
Kita melepas dua ribu sepuluh
Ekonomi sukses, rakyat menderita
Di depan cermin mengalir peluh
Terkagum-kagum memandang badan
Kita melepas dua ribu sepuluh
Pejabat kita gila penghargaan
Dalam ombak buih bergemuruh
Di angkasa pelangi berkilauan
Kita melepas dua ribu sepuluh
Pemerintah kita memburu pencitraan
Keledai berjalan makin jauh
Pulang ke tempat diiringi lagu
Kita melepas dua ribu sepuluh
Presiden kita masih ragu-ragu
Kapal berayar ke samudra luas
Di atas laut banyak perahu
Kita memasuki dua ribu sebelas
Tahun baru dan harapan baru
Makassar, 1 Januari 2011
Senin, 25 Oktober 2010
Kalah Gertak RMS
Jangan lupa singgah belanja
Memenuhi undangan Ratu Belanda
SBY berangkat menjelang senja
Burung berkicau di pohon cempaka
Terbang hinggap di bebatuan
Enam puluh lima tahun kita merdeka
Baru menerima surat pengakuan
Dalam ruangan mengalun lagu
Musik merdu kedengaran lantang
Dalam pesawat rombongan menunggu
SBY tampaknya belum juga datang
Perahu berlayar takkan kandas
Kalaulah layar bisa terangkat
Pesawat presiden tak lepas landas
Karena SBY tak mau berangkat
Banyak orang makan di kantin
Sambil makan bisa bercanda
SBY marah dan prihatin
RMS bikin sidang di Belanda
Menuntut ilmu di kota Leiden
Kalau perang belajar di Rusia
Katanya RMS menangkap presiden
Atas pelanggaran hak azasi manusia
Kalau keju dicampur selada
Enak rasanya tidak terasa
SBY batalkan lawatan ke Belanda
Antara ketakutan dan martabat bangsa
Ada garuda tergambar di dada
Ada gambar anak cicak
Karena membatalkan terbang ke Belanda
RMS dianggap berhasil menggertak
Elang terbang ke tengah lautan
Gugup memandang burung gelatik
Antara martabat bercampur ketakutan
SBY lupa kekebalan diplomatik
Makassar, 17 Oktober 2010
Senin, 27 September 2010
Membunuh Teroris, Teroris membunuh
Nyala api bagai jilatan
Kalau angin memberi hempasan
Terorisme terus mengancam keselamatan
Agama dibelokkan di jalan kekerasan
Di tengah gulita bunyi petasan
Ledakan di udara bagai kepakan
Berantas terorisme dengan kekerasan
Dendam dibalas dengan perampokan
Bom digunakan menangkap ikan
Terumbu karang hancur berantakan
Senjata digunakan melawan keyakinan
Jihad dijadikan semangat perlawanan
Kalau berbaris kaki dihentakkan
Tangan di pinggang ikut digoyangkan
Teror ledakan ke perampokan
Teroris dan perampok saling manfaatkan
Menangkap burung dengan jebakan
Perangkap dirusak hewan tangkapan
Tangkap teroris dengan tembakan
Polisi dibunuh dengan senapan
Kalau menunggang sapi karapan
Jangan berlari di luar pinggiran
Gagah perkasa densus delapan-delapan
Berantas terorisme jangan sendirian
Racun dikirim lewat bungkusan
Jangan dikira bingkisan makanan
Terosisme butuh pendekatan kemanusiaan
Jangan bertindak sesuai pesanan
Ayam terkurung dalam kurungan
Melihat burung terbang di awan
Berantas teroris dengan peperangan
Terorisme tumbuh bagaikan cendawan
Ular kobra membiak di hutan
Kalau malam merayap ke halaman
Terorisme musuh kemanusiaan
Harus dihadapi secara bersamaan
Makassar, 23 September 2010
Kamis, 23 September 2010
Tuhan Dibakar dan Ditusuk
Kalau di tanah racun merasuk
Di Amerika Qur'an dibakar
Di Bekasi pendeta ditusuk
Lipan sembunyi dalam jerami
Kalau menggigit tersengat bisanya
Amarah membara buta nurani
Ajaran Tuhan dibakar fisiknya
Lintah di semak mencari darah
Kalau menggigit besar tubuhnya
Keyakinan disekap dengan amarah
Gembala Tuhan ditusuk fisiknya
Jangan mengganggu ular berbisa
Kalau berada di tanah petakan
Agama memandu hidup manusia
Mengapa keyakinan disengketakan
Matahari sinari penjuru dunia
Jangan melihat sambil berbalik
Satu Tuhan untuk semua
Mengapa agama dijadikan konflik
Di hutan pohon tumbuh sendiri
Tempat hewan mencari makan
Surga dan neraka ditentukan sendiri
Mengapa keimanan dipaksakan
Lampu pelita nyalanya redup
Karena diisi minyak yang busuk
Kalau menghendaki keselamatan hidup
Janganlah Tuhan dibakar ditusuk
Sinjai, 13 September 2010
Legislator Hight Cost
Jangan membaca ayat-ayat
Saat caleg berkampanye
Berjanji memenuhi kesejahteraan rakyat
Buang kertas di tumpukan sampah
Dikerumuni semut dan lalat
Saat berkampanye berani bersumpah
Akan berjuang demi rakyat
Dalam parit terlihat kotor
Tiang besi kelihatan berkarat
Saat menjadi calon legislator
Seluruh napasnya atasnamakan rakyat
Di pinggir pantai banyak nelayan
Masih banyak hidup melarat
Ketika terpilih bertahta di Senayan
Mulai menguras uang rakyat
Emas tersimpan di batu cadas
Banyak menggali gunakan alat
Ketika menjadi wakil yang cerdas
Jago argumen tuk pakai uang rakyat
Kalau duduk di tempat keramat
Daging sesaji disayat-sayat
Saat menjadi lagislator terhormat
Bernapas pun dilayani dengan uang rakyat
Masak gulai dan sambal terasi
Semua makanan habis diembat
Demi kenyamanan berlegislasi
Bangun gedung mewah dengan uang rakyat
Banyak cangkang kepiting dan udang
Mencengkram mangsa langsung melumat
Agar maksimal bikin undang-undang
Peknik luar negeri dengan uang rakyat
Melihat hantu katanya ghost
Hantu-hantuan terus bergulat
Wakil-wakil kita, legislator hight cost
Bersenang di atas penderitaan rakyat
Makassar, 16 September 2010
Selasa, 07 September 2010
Idul Fitri, Jagalah Puasa
Di sungai membiak ikan patin
Setelah berpuasa sebulan penuh
Mohon maaf lahir dan batin
Kalau hendak makan di kantin
Jangan sembunyi dalam ruangan
Mohon maaf lahir dan batin
Jangan hanya jabat di tangan
Kembang tumbuh di pekarangan
Daunnya rimbun dan hijau
Jangan hanya jabat di tangan
Jangan hanya pakaian berkilau
Sawah dibajak pakai kerbau
Menanam padi dan tanam talas
Jangan hanya pakaian berkilau
Zakat dan sedekah tulus dan ikhlas
Air bening di dalam gelas
Jangan dicelup besi batangan
Zakat dan sedekah tulus dan ikhlas
Agar yang miskin juga nikmati kemenangan
Banyak lumpur dalam kubangan
Banyak lumut yang melapisi
Agar yang miskin juga nikmati kemenangan
Jangan bersedekah demi gengsi
Banyak ulat di daun trembesi
Akar tak bisa menahan abrasi
Jangan bersedekah demi gengsi
Bersihkan pemberian dari sumber korupsi
Minyak pelumas tumpah di garasi
Ada bensin yang tersisa
Bersihkan pemberian dari sumber korupsi
Agar berpuasa tidak sia-sia
Kapal berlayar ke andalusia
Ditimpa badai layar tersangkut
Agar puasa tidak sia-sia
Jagalah puasa sampai Ramadhan berikut
Makassar, 7 September 2010
Sabtu, 28 Agustus 2010
Serumpun Sengketa
Di bawah kolong ada hewan melata
Bersama-sama bangsa serumpun
Satu jazirah subur sengketa
Daun di dahan hendaklah layu
Kalau benalu selalu membalut
Bersama-sama bumi Melayu
Amarah membara gampang tersulut
Anak belia menjalin karib
Untuk mencari banyak kerabat
Sesama jiran sesama nasib
Janganlah saling singgung martabat
Perahu tertambat di tepi dermaga
Penumpang jenuh berlama-lama
Kalau persaudaraan hendak dijaga
Pagar batas disepakati bersama
Kapal berlayar tujuan searah
Bersama-sama pandai berlomba
Negeri serumpun satu sejarah
Tangkallah laknat yang mengadu-domba
Nasi dimasak menjadi bubur
Uap di kuali menjadi embun
Di timur tengah hancur lebur
Karena peperangan bangsa serumpun
Di lahan banyak kembang jepun
Banyak jerami merambat di sulur
Mari merawat samagat serumpun
Bara perbatasan jangan diulur
Makassar, 26 Agustus 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Merdeka
Rumah impian nan menawan
Hari ini hari merdeka
Terima kasih wahai pahlawan
Harum baunya buah nagka
Kalau masak jatuh mendera
Hari ini hari merdeka
Kami sibuk upacara bendera
Warna balon yang beraneka
Bergerak-gerak merangkai gaya
Hari ini hari merdeka
Kami nyanyikan Indonesia Raya
Patung di taman bagai boneka
Kalau dilihat seperti berbicara
Hari ini hari merdeka
Kami hafal dasar negara
Kalau ingin membuat koteka
Jangan gunakan buah yang langka
Hari ini hari merdeka
Rasa-rasanya belum merdeka
Alangka panas api neraka
Pedih rasanya tertusuk jarum
Hari ini hari merdeka
Kami terjajah mafia hukum
Kalau mencari malapetaka
Perahu berlayar jangan dibocor
Hari ini hari merdeka
Negeri kami dijajah koruptor
Tangkas nian para karateka
Pandai juga bermain gasing
Hari ini hari merdeka
Sumber daya alam dikuras asing
Kalau ingin menulis angka
Jangan tangan menyebar kuman
Hari ini hari merdeka
Keyakinan mengancam keberagaman
Pergi mencari buah semangka
Padih rasanya lapar di lambung
Hari ini hari merdeka
Harga sembako terus melambung
Ulat bukan binatang langka
Daun dan buah pun dihabisi
Hari ini belum merdeka
Mari berperang melawan korupsi
Makassar, 17 Agustus 2010
Jagalah Indra
Bisa dipakai usir serangga
Jagalah indra dalam puasa
Jangan bergunjing aib tetangga
Di pinggir hutan banyak rusa
Ada serigala meraung-raung
Jagalah indra dalam puasa
Jangan dengarkan kabar burung
Banyak kue aneka rasa
Banyak terbuat dari air santan
Jangalah indra dalam puasa
Harum gorengan usahlah bayangkan
Nyamuk dihalang kawat kasa
Semut merayap tanpa permisi
Jangalah indra dalam puasa
Kurangi tontonan sinetron di tivi
Ular di rawa banyak berbisa
Jangan sampai menggigit otot
Jagalah indra dalam puasa
Ada rok pendek jangan melotot
Palu, 15 Agustus 2010
Rabu, 11 Agustus 2010
Ramadhan
Berenang-renang sampai terbalik
Ramadhan hamparkan peluang kebaikan
Mari merangkai perbuatan yang baik
Pohon berdiri kokoh dan kuat
Daunnya rimbun bagai gumpalan
Ramadhan menguji keihklasan berbuat
Jangan beramal karena imbalan
Tupai di pohon makan sendiri
Dedaunan jatuh seperti tissu
Ramadhan menguji pengendalian diri
Puasa berperang melawan nafsu
Kerbau makan di dahan-dahan
Kalau mengunyah tak bisa merasa
Ramadhan limpahkan medan ampunan
Jangan bertobat sebatas puasa
Mutiara dirajut dalam untaian
Tersimpan rapi di dalam peti
Ramadhan limpahkan kemuliaan
Mari beramal dengan rendah hati
Tumbuh rimbun pohon cempaka
Kembang mekar berbalut satin
Ramadhan menguji rasa dan peka
Amal tak bedakan kaya dan miskin
Keluarnya lahar karena erupsi
Gunung meletus tak bisa ditahan
Ramadhan mengurangi perbuatan korupsi
Korupsi beramal pun dibenci Tuhan
Angin melesat bagai panahan
Kadang bunyinya terdengar indah
Ramadhan bukan sekadar menahan
Jagalah mata telinga dan lidah
Makassar, 11 Agustus 2010
Jumat, 06 Agustus 2010
Manajemen Aspirasi ala Senayan
Kalau melihat hamburan nasi
Legislator Senayan sangat kreatif
Seluruh napas atas nama aspirasi
Mesin diesel gunakan busi
Selalu terparkir dalam garasi
Setelah menuntut dana aspirasi
DPR meminta rumah aspirasi
Di pasar malam banyak jualan
Dari pakaian sampai terasi
Agar penuhi hasrat jalan-jalan
DPR minta wisata aspirasi
Bola kelereng bisa dijalin
Kalau duduk di atas kursi
Agar terhindar debu dan angin
DPR minta mantel aspirasi
Tumbuh berjejer pohon serikaya
Dari tanah dan tembok pondasi
Agar lancar di jalan raya
DPR minta patroli aspirasi
Akses intenet dengarkan musik
Banyak warnet tak beroperasi
Agar istirahat nyaman dan asyik
DPR minta hotel aspirasi
Meja makan dibuat bundar
Suasana makan seperti ilusi
Agar sehat, segar, dan bugar
DPR minta fitnes aspirasi
Burung camar dan burung punai
Pandai terbang berimigrasi
Agar tak repot bawa uang tunai
DPR minta ATM aspirasi
Tanah negara dan tanah ulayat
Tanah di pantai tergerus abrasi
Agar tak terganggu pikirkan rakyat
DPR minta satpam aspirasi
Korek api gunakan pemantik
Terbuat dari kayu dan besi
Agar rapih, gagah dan cantik
DPR minta salon aspirasi
Dalam tulang ada sum-sum
Kalau tak masak akan basi
Agar stabil makan dan minum
DPR minta kuliner aspirasi
Ikan bandeng dan ikan teri
Kalau makan tertusuk gusi
Agar terhindar virus dan bakteri
DPR minta masker aspirasi
Anak muda pandai begadang
Kalau ada makanan bergizi
Agar tak ngantuk saat bersidang
DPR minta kopi aspirasi
Dalam semak banyak ular
Anak ayam pun dihabisi
Agar terhindar penyakit menular
DPR minta faksin aspirasi
Kain katun dibuat dasi
Agar bisa menyerap keringat
DPR perkuat serap aspirasi
Yang dirserap kok uang rakyat
Makassar, 4 Agustus 2010
Senin, 02 Agustus 2010
Wakil Rakyat yang Pandai
Wakil rakyat tak pikirkan rakyat
Burung gagak dan burung perkutut
Wakil rakyat hanya menuntut
Tukang kayu pandai memahat
Wakil rakyat tidur di rapat
Burung berkicau di atas menara
Wakil rakyat pandai berbicara
Banyak keledai hendak binasa
Wakil rakyat tak pandai merasa
Ombak pecah di pinggir pantai
Wakil rakyat mengurus partai
Banyak semut mencari pemanis
Wakil rakyat mengurus bisnis
Berebutan mandi di air pancoran
Wakil rakyat menjadi calo angaran
Pandai berlomba di jalan tikungan
Waki rakyat bersuara karena kepentingan
Tanah warisan dan tanah ulayat
Wakil rakyat pandai atasnamakan rakyat
Makassar, 31 Juli 2010
Jumat, 23 Juli 2010
Wahai Anakku Anak Indonesia
Bisa ditempati menuntut ilmu
Wahai anakku anak Indonesia
Jangan sedih melihat negerimu
Di dalam taman bersuka ria
Ada rusa dan burung angsa
Wahai anakku anak Indonesia
Tesenyumlah kau penentu bangsa
Burung di udara panjang usia
Terbang bebas tak sia-sia
Wahai anakku anak Indonesia
Bermimpi dan bertekadlah jadi manusia
Kalau melihat ular berbisa
Hendaklah diam seperti patung
Wahai anakku anak Indonesia
Janganlah dendam temanmu beruntung
Air di tempayan tidak tersisa
Dalam bak busa mengambang
Wahai anakku anak Indonesia
Kaulah generasi pembayar utang
Padi di sawah tidak tersisa
Tanamlah jagung di lahan tegalan
Wahai anakku anak Indonesia
Janganlah iri pada sekolah unggulan
Tunas di pohon bisa binasa
Kalau tak bisa tahan hempasan
Wahai anakku anak Indonesia
Tabahlah hadapi aneka kekerasan
Tikus makan tidak tersisa
Makanan enak sampai yang basi
Wahai anakku anak Indonesia
Doakan ayahmu berhenti korupsi
Kalau buah masih tersisa
Janganlah makan buah terong
Wahai anakku anak Indonesia
Nasihati ibumu agar tak serong
Ayam jantan tak bisa perkasa
Sembarang makan jadinya lumpuh
Wahai anakku anak Indonesia
Ajaklah ayahmu jangan selingkuh
Ada candu yang tidak terasa
Banyak makanan tidak bergizi
Wahai anakku anak Indonesia
Jangan terpengaruh sinteron di tivi
Banyak harta tidak tersisa
Kalau nurani tidak berfungsi
Wahai anakku anak Indonesia
Jangan lanjutkan warisan korupsi
Di hutan rimba ada rusa
Banyak harimau terus mengaum
Wahai anakku anak Indonesia
Jangan bercita-cita mafia hukum
Semut berbaris dengan perkasa
Kalau sawah sedang dipanen
Wahai anakku anak Indonesia
Hari ini pemulung, besok presiden
Makassar, 23 Juli 2010
Rabu, 21 Juli 2010
Bertengkar-tengkar Pendekar Hukum
Di kubangan banyak buaya ditangkar
Keadilan hukum terombang-ambing
Pendekar hukum lagi bertengkar
Burung beo di dalam sangkar
Suaranya keras merambat-rambat
Pendekar hukum lagi bertengkar
Semua merasa benar dan hebat
Kereta berjalan tak bisa lambat
Bunyinya gaduh jadi irama
Semua merasa benar dan hebat
Kitab undang-undang jadi lakon drama
Buah durian menebar aroma
Ada angin jatuh terhempas
Kitab undang-undang jadi lakon drama
Masyarakat bingung saksikan pentas
Kalau ingin menulis di kertas
Jangan pena berganti jarum
Masyarakat bingung saksikan pentas
Pakar dan pengak bersilat hukum
Mekar bunga berkuntum-kuntum
Tak bisa menyebar harum mewangi
Pakar dan penegak bersilat hukum
Di atas panggung saling telanjangi
Di puncak gunung ada pelangi
Di pohon-pohon ada benalu
Di atas panggung saling telanjangi
Semunya telanjang tapi tak malu
Di atas meja patah palu
Kalau paku ingin diraup
Semuanya telanjang tapi tak malu
Tanda keadilan sudah terkorup
Makassar, 21 Juli 2010
Jumat, 16 Juli 2010
Harga Barang vs Harga Diri
Selasa, 13 Juli 2010
Koperasi
Kalau tanam buah kurma
Janganlah bibit disimpan di kamar
Kalau ingin makmur bersama
Bangunlah koperasi baik dan benar
Kalau ingin menyusun irama
Susunan notasi diubah nama
Jangan koperasi milik bersama
Dimiliki pengurus hancur bersama
Kalau ingin ciptakan rasa
Bumbu dicampur dalam busa
Janganlah koperasi unit desa
Wadah korupsi uang di desa
Kalau memberi makan ayam
Simpan makanan di atas anyaman
Janganlah koperasi simpan pinjam
Pengurus korupsi semua pinjaman
Kalau ingin menanam cendawan
Hindari percikan kapur barus
Janganlah koperasi karyawan
Uang karyawan ATM pengurus
Kalaulah ingin bersihkan lemari
Keluarkan semua di bawah kolong
Janganlah koperasi pegawai negeri
Gaji dipotong pejabatnya nyolong*
Kalau ingin mencari makanan
Anak ayam lewati pematang
Janganlah koperasi tani dan nelayan
Anggotanya miskin dililit utang
Kalau ingin membuat ledakan
Bunyi dibuat seperti erupsi
Jangalah koperasi-koperasi dadakan
Karena ada peluang korupsi
Kalau melihat matahari bersinar
Janganlah jari menutup mata
Bangunlah koperasi baik dan benar
Ingat wasiat Mohammad Hatta
Makassar, 12 Juli 2010
* nyolong = curi
Kamis, 08 Juli 2010
Satpol PP Bersenjata
Diam-diam sembunyi di pantai
Ada apa dengan Depdagri
Satpol PP dipersenjatai
Kalau ingin memakai rantai
Jangan diikat dengan celurit
Satpol PP dipersenjatai
Pegawai ketertiban atau prajurit
Banyak lintah dalam parit
Banyak megintai hewan melata
Pegawai ketertiban atau prajurit
Pentungan kayu berganti senjata
Kotak kaleng indah ditata
Banyak nyamuk jadikan sarang
Pentungan kayu berganti senjata
Gusur pedagang merasa berperang
Kalau ingin membuat kandang
Jangan pelihara hewan buruan
Gusur pedagang merasa berperang
Makin beringas di eksekusi bangunan
Lalat bertengger di atas ayunan
Di atas dinding cicak mengancam
Makin beringas di eksekusi bengunan
Warga sipil makin terancam
Di tepi pantai membuat garam
Garam dijemur dalam tambak
Warga sipil makin terancam
Satpol PP bisa salah tembak
Bongkar bangunan dengan merombak
Tak ada alat gunakan raga
Satpol PP bisa salah tembak
Keker ke udara, nyasar ke warga
Panas terik terasa dahaga
Kalau perut tidak terisi
Keker ke udara nyasar ke warga
Bangga bersaing dengan polisi
Kalau makan kue berisi
Jangan lidah menyapu rata
Bangga bersaing dengan polisi
Sama-sama punya senjata
Membaca buku dengan kacamata
Jangan duduk di atas pasir
Sama-sama punya senjata
Satu profesional, satu amatir
Makassar, 8 Juli 2010
Kamis, 01 Juli 2010
Rekening ''Battala'' Perwira Polisi *
Kalau berjalan jangan berisik
Berita di Tempo mengeritik polisi
Mabes Polri merasa terusik
Dingin menusuk ke pori-pori
Jangan sembunyi dalam bilik
Kalau tulus memperbaiki Polri
Jangan geram menerima kritik
Air berlumpur mengalir ke muara
Air bening tidak kentara
Rekening gemuk para perwira
Rekening celengan para bintara
Burung pemangsa tak bersuara
Kalau terbang tak kenal batas
Rekening celengan para bintara
Beban tak resmi setoran ke atas
Pohon pisang buahnya ranum
Kalau panen jangan dibalik
Rekening gemuk rahasia umum
Sangat sedikit polisi yang baik
Kucing makan di suasana hening
Ayam makan berhimpitan
Perwira polisi bergelimang rekening
Polisi lapangan andalkan sempritan
Pinggir selokan banyak nyamuk
Kalau menggigit pedih rasanya
Publik mengutuk rekening gemuk
Polisi yang baik tersayat hatinya
Kalau menjahit kantong celana
Jangan simpan patahan jarum
Dari mana aliran dana
Dari markus dan mafia hukum
Simpan makanan di tempat jorok
Jangan sampai dimakan hama
Polri kita sedang bobrok
Mari benahi bersama-sama
Kalau ingin mengikat pasak
Jangan gunakan tali yang lusuh
Polri lindungi polisi yang rusak
Polisi yang baik dianggap musuh
Padi di sawah mulai berisi
Jangan sampai tikus menjarah
Bersama-sama membenahi polisi
Kalau dikritik janganlah marah
Makassar, 1 Juli 2010
* Battala bahasa Makassar artinya gemuk
Sabtu, 26 Juni 2010
Rusuh Pilkada
Jatuh menerpa padang luas
Habis pilkada perhitungan suara
Banyak pemilih merasa tak puas
Di hutan banyak binatang buas
Ada yang melompat sampai jatuh
Banyak pemilih merasa tak puas
Para kandidat saling menuduh
Kapal berlayar hendak berlabuh
Nakoda mabuk menabrak galangan
Para kandidat saling menuduh
Katanya pilkada penuh kecurangan
Kancil mandi dalam kubangan
Bersandar sejenak di pohon pakis
Katanya pilkada penuh kecurangan
Para tim sukses bertindak anarkis
Menggali tanah gunakan linggis
Bisa digunakan menunggu musuh
Para tim sukses bertindak anarkis
Protes diwujudkan perbuatan rusuh
Daun tumbuhan kelihatan lusuh
Seperti hewan yang tak pernah minum
Protes diwujudkan perbuatan rusuh
Membakar kantor dan fasilitas umum
Kalau ingin menusuk jarum
Jangan gunakan kain berlapis
Membakar kantor dan fasilitas umum
Proses demokrasi tidak demokratis
Pahit rasanya kue lapis
Berwarna-warni seperti bendera
Proses demokrasi tidak demokratis
Ada yang halalkan semua cara
Makassar, 26 Juni 2010